Autis

AUTIS



Istilah medis
Istilah medisnya adalah Autism Spectrum Disorder (ASD)

Pengenalan

Autis merupakan gangguan perkembangan saraf otak yang membatasi kemampuan anak untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain. Bagian otak yang terkena dampak dari sindrom autis adalah area yang mengatur tentang komunikasi, emosi dan pergerakan tubuh.
Autis dapat menyerang siapa saja, dari ras dan kelompok social apa pun. Anak laki-laki lebih banyak yang menderita autis daripada anak perempuan.
Penyebab pasti autis hingga kini masih dalam penelitian. Namun, tampaknya faktor genetik atau keturunan memegang peranan. Pada keluarga yang memiliki anak autis, kemungkinan untuk anak berikutnya menderita autis pula adalah sebesar 19%.
Ada beberapa faktor risiko yang diperkirakan dapat meningkatkan kejadian autis pada seorang anak, yaitu :
  • Anak yang memiliki saudara pengidap autis.
  • Anak yang memiliki kelainan kromosom atau genetic lain.
  • Wanita hamil yang mengonsumi obat-obatan yang mengandung asam valproat dan atau thalidomide, berisiko melahirkan anak yang nantinya akan mengalami autism.
  • Anak yang lahir dari ibu yang berusia tua.


Beberapa gejala autis yang sering muncul adalah :

  • Gejala awal pada bayi yang lebih kecil yaitu  tidak menoleh bila dipanggil namanya, tidak merespons terhadap suara ibu, tidak dapat memandang mata lawan bicara, tidak dapat menunjuk benda, tidak memiliki respons sosial.
  • Tidak bisa melakukan kontak mata dengan orang lain.
  • Kurang suka disentuh/melakukan kontak fisik.
  • erjadi kelambatan bicara. Belum dapat berbicara pada usia 16 bulan. Belum dapat menyusun/berbicara dua kata hingga usia dua tahun.
  • Suka melakukan kegiatan berulang-ulang (repetisi), seperti menggerak-gerakkan badannya, mengatur benda berulang-ulang dalam bentuk yang dia mau.
  • Memiliki kebiasaan tersendiri yang harus selalu diikuti sesuai dengan urutannya.
  • Sering mengulang kata-kata atau frasa.
  • Tidak dapat mengatakan keinginan atau kebutuhannya sendiri.
  • Sangat sensitive walaupun dengan perubahan lingkungan atau suasana yang sangat kecil, seperti suara bel, bau-bauan, cahaya dan lainnya.
  • Kurang tertarik pada permainan pada umur 18 bulan.
  • Kurang dapat memahami perasaan orang lain. Tidak dapat memahami arti perasaan sedih, gembira, kecewa, dan lainnya. sehingga tidak dapat mengungkapkan perasaan yang mereka rasakan. 
  • Biasanya memiliki gangguan pencernaan.
  • Sulit tidur
  • Kurangnya koordinasi pada kemampuan kasar, seperti berlari dan memanjat. 
  • Beberapa anak yang menderita autis memiliki kecerdasan yang rendah hingga normal, namun tidak jarang juga sangat cerdas dan berbakat pada satu bidang, misalnya musik. anak yang kondisinya parah perlu mendapatkan bimbingan setidaknya agar dapat merawat dirinya sendiri. 

Terdapat beberapa gangguan perkembangan anak yang kondisinya sangat mirip dengan autis dan sering didiagnosakan sebagai autis. Gangguan tersebut antara lain :

  • Autis, adalah kelanan perkembangan yang ditandai dengan hambatan dalam perkembangan kemampuan motorik, interaksi sosial, dan komunikasi. anak juga akan mengalami respon yang abnormal terhadap stimulasi sensoris, juga ada keterlambatan perkembangan. gejela nampak sebelum anak menginjak usia tiga tahun. 
  • Sindrom Asperger, gejala hampir sama dengan autis. penderita sindrom asperger juga memiliki keterbatasan dalam berinteraksi dan beraktivitas. Namun mereka tidak menunjukkan keterlambatan bicara dan memiliki IQ rata-rata malah diatas rata-rata, sehingga kebanyakan sindrom Asperger dapat hidup mandiri.
  • Sindrom Rett. Bentuk autisme yang bersifat degeneratif. Ditandai dengan perkembangan yang normal pada awal pertumbuhannya, kemudian secara bertahap kemampuan yang dimilikinya hilang atau mengalami penurunan. Misalnya kemampuan menggunakan tangan. Biasanya gejala muncul saat usai 6 bulan hingga 18 bulan. sebagian besar menyerang anak perempuan. 
  • Childhood Disintegrative Disorder (CDD), bentuk yang hampir mirip dengan sindrom rett, yaitu mengalami kemunduran perkembangan. anak memiliki perkembangan yang normal hingga usia dua tahun, kemudian kemampuan perkembangannya mengalami kemunduran atau terganggu sebelum usia mencapai sepuluh tahun.
  • Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Specified (PDD-NOS), bentuk autis yang tidak termasuk pada tipe autis, sindrom Asperger, maupun sindrom Rett, namum memiliki gejala yang hampir sama dengan autisme lain.

Pencegahan 

Penyebab terjadinya Autis masih belum dapar diketahui secara pasti. Yang dapat anda lakukan adalah memeriksakan kesehatan anda dan janin anda selama kehamilan. Hindarilah mengkonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter. 

Untuk mencegah anak autis menjadi beban keluarga dan masyarakat, orang tua perlu memeriksakan buah hatinya apabla dicurigai menderita autis.  Makin cepat gangguan ini terdeteksi, makin dini pula penanganan yang dapat anda lakukan untuk membantu buah hati meningkatkan kemampuan dan kemandiriannya.

 

Pengobatan

Penanganan anak autis memerlukan kerjasama dari berbagai pihak, karena harus ditangani dari berbagai aspek, seperti aspek psikologis, kemampuan bahasa dan komunikasi, kemampuan motorik, dan sebagainya. 

Tidak ada obat khusus untuk menghilangkan gejala autis. Untuk terapi obat, pemberian obat-obatan tergantung pada gejala yang dialaminya, misalnya obat antidepresan atau anti kejang.

 

 

Artikel Terkait

ana solo